Utang BPJS Kesehatan dan Kurs Dolar Bisa Ganggu Suplai Obat

JawaPos.com – Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) semakin terseok di tengah defisitnya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Bahkan kini bukan hanya dokter dan pasien yang terkena dampaknya, namun suplai obat juga ikut terganggu.

Terbukti dari beredarnya surat keluhan yang dikeluarkan Pengurus Pusat GP (Gabungan Perusahaan) Farmasi Indonesia terkait utang BPJS Kesehatan yang jatuh tempo obat dan alat kesehatan yang belum dibayar. Jumlahnya fantastis. Mencapai Rp 3,5 triliun per Juli 2018.

Surat yang ditandatangani para pejabat di Pengurus Pusat GP Farmasi Indonesia itu menjelaskan, program Jaminan Kesehatan Nasional terancam mengalami kendala suplai obat-obatan dan alat kesehatan menjelang akhir 2018. Utang JKN jatuh tempo mencapai Rp 3,5 triliun dan periode pembayaran semakin panjang, dari 90 hari di 2016 menjadi 120 hari di semester 1-2018.

Surat dari Pengurus Pusat GP, biaya suplai obat, rupiah anjlok,Surat dari Pengurus Pusat GP (Gabungan Perusahaan) Farmasi Indonesia terkait utang BPJS Kesehatan atas jatuh tempo obat dan alat kesehatan yang belum dibayar. (dok Pengurus Pusat GP Farmasi)

Akibatnya, industri farmasi mulai kesulitan cash flow, sedangkan suplai obat dan alat kesehatan (alkes) bisa terganggu. Mereka berharap adanya solusi dari pemerintah agar menyelesaikan rangkaian masalah di seluruh rantai distribusi obat dan alkes. Surat tersebut ditujukan kepada Menteri Kesehatan.

Menanggapi situasi dan kondisi itu, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Mahdi Jufri membenarkan kondisi sulit yang sedang dialami oleh perusahaan farmasi. Dia khawatir jika tidak menemukan solusi, masalah ini akan berdampak pada suplai obat untuk pasien.

“Ya, setiap perusahaan yang tagihannya macet tentu akan menggangu cash flow perusahaan tersebut,” tegas Mahdi kepada JawaPos.com, Rabu (5/9).

Apalagi, kata Mahdi, kondisi semakin sulit dengan adanya kenaikan kurs dolar yang membuat rupiah melemah di angka Rp 15 ribuan. Sebab hampir semua bahan baku obat di Indonesia dan obat-obatan di Indonesia masih impor.

“Rasanya makin berat karena kurs Dolar makin tinggi, bahan baku obat lebih dari 90 persen masih impor,” tegasnya.

Mahdi khawatir pasien BPJS akan sulit mendapatkan obat dengan kondisi tunggakan BPJS. Dia berharap adanya solusi dari kondisi BPJS yang terus defisit.

“Saya khawatir mereka (perusahaan farmasi) nggak mampu menyuplai obat lagi. Kalau tagihannya seret terus, dampaknya pasien yang kena. Sampai sekarang sih belum,” papar Mahdi.

(ika/ce1/JPC)

Cara DAFTAR POKER Domino Qiu Qiu Capsa Susun Online Indonesia di Situs Agen Judi Terpercaya Assosiasi Resmi Dewapoker IDN Bank BCA, BNI, BRI dan Mandiri.