Kepulangan Ketiga Pram ke Blora

JawaPos.com – “Pram tak hanya milik keluarga dan Blora, tapi juga milik Indonesia dan dunia. Kami memberikan apresiasi tinggi atas apa yang telah ditorehkannya.” Arief Rahman, Wakil Bupati Blora

PRAMOEDYA Ananta Toer “kembali lagi” ke Blora pada 12 hingga 15 September 2018. Namun, kepulangan Pram kali ini berbeda dengan dua tonggak kepulangan sebelumnya.

Memang, dalam linimasa kepulangan, saya mencatat tiga tonggak kepulangan Pram. Sebut saja, tiga tonggak itu menandai bagaimana sesungguhnya hubungan Pram dengan Blora, tanah kelahirannya. Hubungan tiga kepulangan tersebut berkonteks keluarga, pembaca/publik, dan negara/republik.

Tonggak kepulangan pertama terjadi saat orang tuanya sakit keras -sebagaimana dikisahkan dengan daya intimasi memukau dalam Bukan Pasar Malam. Tonggak kepulangan itu berkonteks keluarga.

Pram melakukan turne kedukaan dari Jakarta ke Blora via kereta api. Disebut turne duka karena akhir dari kepulangan tersebut kita melihat bagaimana Pram yang berusia remaja mesti mengambil alih semua tanggung jawab nasib kemudi keluarga.

Kepulangan pertama itulah yang justru menjadi awal ketika Pram memutuskan membawa adik-adiknya hijrah dari Cerita dari Blora yang melankolis ke jantung Cerita dari Jakarta yang karikatural; dari Gadis Pantai ke Larasati dan Midah Si Manis Bergigi Emas.

Di fase keluarga, Pram adalah sang patriarch yang mendidik adik-adiknya dengan pengajaran rumah yang disiplin. Jikapun kembali ke Blora, pembicaraan berkitar-kitar di seputar merawat kuburan leluhur, sengketa tanah sekolah, dan sejumlah melankolia. Dalam berbagai testimoni, Pram di mata adik-adiknya adalah abang yang jauh dari hangat.

Tonggak kepulangan kedua saat Pram “kembali” ke Blora terjadi pada 2009 dalam rangkaian haul “Seribu Hari” setelah ia mangkat pada Mei 2006. Pada kepulangan anumerta ini, rumah masa kecil Pram di Jalan Sumbawa 40, Blora, menjadi magnet kedatangan sahabat dan pembaca bukunya.

Dalam konteks ini, ruang yang berkumpul di “Blora” sebatas publik yang terpapar bacaan karya Pram. Keluarga dan pencinta buku-buku Pram dari banyak kota pada 2009 itu bermusik dan berkisah dengan satu ketetapan pandangan bahwa Pram tetaplah sebagai pembangkang yang liat hingga mati. Ia ikon bagaimana seorang diri menyodorkan ide-ide yang berseberangan dengan tafsir pemerintah. Pram tetap hidup di hati publik pembaca sebagai api.

Tonggak kepulangan ketiga terjadi satu dekade berikutnya. Yakni saat Pram diterima kembali ke pangkuan negara sebagai pujangga terbaiknya yang mengharumkan nama bangsa. Pemerintah Kabupaten Blora menerima Pram sebagai sastrawan yang membawa Blora dalam perbincangan buana.

Sebelumnya hubungan Pram dengan negara berada di linimasa yang menegangkan. Negara sebagai penguasa pengontrol menempatkan Pram sebagai paria yang wajib lapor ke barak tentara terdekat saban bulan. Negara selalu awas dan memastikan Pram dan mereka yang terhubung dengannya sebagai manusia rantai dengan kebebasan yang sangat terbatas.

Nah, pada “kepulangan” ketiga ke Blora ini, Pemkab Blora dan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud meletakkan Pram di level yang bermartabat. Pram dijadikan nilai acuan bagaimana sastra Indonesia dibaca dan seperti apa rupa Indonesia dalam kaca benggala kebudayaan. Sastrawan yang lahir pada 6 Februari 1926 itu didudukkan sebagai teladan dalam satu tarikan tagline “Sastra Blora, Sastra Dunia”.

Dalam konteks yang lebih nyata, program Indonesiana yang bertajuk “Cerita dari Blora” ini merevitalisasi rumah masa kecil Pram menjadi rumah sastra. Revitalisasi itu bisa pula kita baca sebagai kemauan yang kuat bagaimana negara membuka diri atas sosok yang pada Frankfurt Book Fair pada 2015 namanya disandingkan dengan Goethe di dinding utama paviliun Indonesia tersebut.

Selama tiga tahun ke depan, Pemkab Blora disupervisi Ditjen Kebudayaan untuk memastikan “Cerita dari Blora” menjadi platform yang tepat untuk pemajuan kebudayaan masyarakat di seantero kabupaten.

Di titik ini, Pram memang diperluas cakupannya sebagai ikon budaya bagaimana Blora-Indonesia mesti dibaca secara baru. Dalam hal ini, sastra dan Pram dilihat sebagai magnet kota bagi Pemkab Blora untuk mendapatkan pengunjung khusus berskala internasional.

Rumah Sastra Pramoedya Ananta Toer di Blora, dengan demikian, menjadi tiga titik temu sekaligus: keluarga, publik, dan republik. Ketika menjadi rumah sastra, artinya ada ikhtiar yang serius dari kerja sama keluarga, publik, dan pemerintah untuk secara kolektif menghidupkan teks-teks Pram lewat berbagai medium. Drama Mangir, misalnya, bisa diteaterkan siswa-siswa SMA. Atau sejumlah cerita pendek Cerita dari Blora di alihwahanakan menjadi bahan bagi calon sineas belia untuk memproduksi film-film pendek eksperimental.

Selain itu, Rumah Sastra dengan spirit perguruan tersebut berubah menjadi kelas-kelas produktif melahirkan penulis-penulis muda potensial. Sebab, kita semua tahu, Pram pada 1960-an adalah seorang guru; pengajar sejarah Indonesia di Universitas Respublika dan mentor utama di Akademi Multatuli. 

*) Pendiri @warungarsip dan @radiobuku

(*)

Cara DAFTAR POKER Domino Qiu Qiu Capsa Susun Online Indonesia di Situs Agen Judi Terpercaya Assosiasi Resmi Dewapoker IDN Bank BCA, BNI, BRI dan Mandiri.