Sesar Palu Koro Ulang Kembali Gempa Besar Sulawesi 1909

loading…

Gempa 7,7 SR di Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9/2018) terjadi akibat aktivitas sesar Palu Koro. FOTO/ Daily

JAKARTA – Gempa 7,7 SR di Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9/2018) terjadi akibat aktivitas sesar Palu Koro. Dan  gempa Donggala, Sulawesi Tengah, dengan magnitudo 7,4, memiliki energi sekitar 2,5 x 10^20 Nm.

“Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Palu  Koro, yang dibangkitkan oleh deformasi dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar mengiri (slike-slip sinistral)” terang Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan

Berdasarka penjelasan dari situs resmi LIPI, Sesar Palu Koro terletak di sepanjang lembah Palu Koro yang membentang dari Teluk Palu ke arah tenggara. Sesar ini merupakan struktur geologi utama di Provinsi Sulawesi Tengah. Berdasarkan data Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) terlihat dengan jelas adanya kelurusan sepanjang lembah Palu Koro yang berkaitan dengan keberadaan Sesar Palu Koro. Sebaran Sesar Palu Koro dapat dibagi menjadi tujuh segmen dengan urutan dari utara ke selatan adalah S6, S5, S4, S3, S2, S1, dan S0.

Sesar Palu-Koro yang membelah Pulau Sulawesi dari Teluk Palu ke Teluk Bone amat aktif bergerak dengan besar pergeseran 41-45 milimeter per tahun (Socquet dkk, 2006). Namun, sejumlah peneliti, misalnya Bellier dkk (2001) mengelompokkan Sesar Palukoro sebagai sesar dengan besar pergeseran tinggi dan kegempaan rendah.

 Morfometri merupakan pengukuran secara kuantitatif dari bentuk lahan yang meliputi lembah, muka pegunungan, luas daerah aliran sungai, tinggi, dan panjang sungai. Nilai parameter morfometri sinusitas muka pegunungan Sesar Palu Koro berkisar antara 1,0008 hingga 2,3367, sedangkan nilai perbandingan lebar dan tinggi lembah berkisar antara 0,03936 hingga 0,9732.

Berdasarkan analisis morfometri menggunakan dua parameter tersebut terlihat bahwa semua segmen Sesar Palu Koro tergolong kelas tektonik tinggi dan menengah, dan pada segmen bagian selatan, yaitu segmen S0, S1, S2, dan S3 kelas tektoniknya cenderung lebih tinggi dibandingkan segmen pada bagian utara, yaitu S4, S5, dan S6.

Catatan sejarah gempa bumi terkuat di sesar ini terjadi tahun 1909. Mengutip catatan geolog Belanda, Abendanon, menyebut, gempa pada 1909 itu menghancurkan desa-desa di Sulawesi Tengah. Akibat gempa, rumah hancur dan ditinggalkan penghuninya. Bahkan, daun dan buah kelapa muda berjatuhan.

(wbs)